Pembelajaran bahasa Inggris, khususnya keterampilan listening , masih menjadi tantangan bagi guru di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hasil penelitian di lima sekolah di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memahami percakapan bahasa Inggris masih perlu ditingkatkan.
Siswa masih menghadapi berbagai kendala ketika listening percakapan bahasa Inggris, terutama saat berhadapan dengan kecepatan berbicara yang tinggi, kosakata yang belum dikenal, variasi aksen dan intonasi, serta kesulitan menangkap informasi penting dari materi audio. Kondisi tersebut membuat guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang lebih bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Penelitian ini dilaksanakan oleh tim peneliti Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Peradaban yang diketuai oleh Dede Nurdiawati, S.Pd., M.Pd dengan anggota S.R. Pramudyawardhani, S.S., M.Pd dan Muh Ilhami Hakim, S.S., M.Pd serta melibatkan tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, yaitu Melly Rahayu, Novita Fibriani, dan Akmal Eka Pramudya. Penelitian ini melibatkan enam guru bahasa Inggris dari lima sekolah di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, yaitu SMAN 1 Paguyangan, SMAS Nurul Huda NU Paguyangan, SMK Muhammadiyah 1 Paguyangan, SMK Nurul Huda Paguyangan, dan SMK Ma’arif NU Paguyangan.
Untuk memperoleh gambaran yang mendalam mengenai kondisi pembelajaran di sekolah, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Keenam guru dipilih melalui teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan kriteria tertentu, khususnya guru yang aktif mengajar bahasa Inggris, memiliki pengalaman dalam mengajarkan keterampilan listening , dan bersedia menjadi informan penelitian. Penelitian difokuskan pada kesulitan yang dihadapi guru, faktor-faktor penyebabnya, kondisi fasilitas dan sumber daya pembelajaran, serta strategi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik, yaitu wawancara mendalam, observasi pembelajaran di kelas, dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk menggali pengalaman dan pandangan guru, observasi dilakukan untuk melihat secara langsung proses pembelajaran serta interaksi guru dan siswa, sedangkan dokumentasi digunakan untuk mengkaji perangkat dan sumber pembelajaran yang tersedia. Penelitian dilaksanakan melalui enam tahapan, mulai dari studi literatur dan identifikasi masalah, penyusunan instrumen, pengumpulan data, analisis data, penyajian hasil temuan, hingga perumusan strategi dan rekomendasi. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Untuk memastikan keabsahan temuan, tim peneliti menerapkan triangulasi sumber, triangulasi metode, dan member checking dengan mengonfirmasi kembali informasi kepada informan.
Hasil wawancara mengungkapkan enam tantangan utama yang dihadapi guru dalam mengajarkan listening . Pertama, kemampuan listening siswa masih terbatas karena kurangnya latihan dan paparan bahasa Inggris secara rutin. Kedua, keterbatasan kemampuan linguistik, terutama penguasaan kosakata, pengenalan kata kunci, pembedaan bunyi yang hampir serupa, dan kemampuan menangkap pesan lisan. Ketiga, faktor psikologis dan afektif, seperti rendahnya kepercayaan diri, kecemasan, kurangnya motivasi, dan menurunnya konsentrasi ketika menghadapi materi yang sulit.
Tantangan berikutnya berkaitan dengan aspek pedagogis. Guru mengalami kesulitan dalam memilih materi yang sesuai dengan kemampuan siswa dan merancang kegiatan listening yang menarik. Rekaman autentik terkadang memiliki kecepatan berbicara yang terlalu tinggi atau kosakata yang belum familier bagi siswa. Selain itu, keterbatasan waktu dan kegiatan pembelajaran yang cenderung berulang dapat mengurangi kesempatan siswa untuk berlatih secara optimal. Guru juga menghadapi kendala dalam pengelolaan kelas, terutama ketika harus mengakomodasi jumlah siswa yang besar dan tingkat kemampuan yang beragam.
Dari aspek fasilitas, ketersediaan media dan sarana pembelajaran juga menjadi perhatian. Meskipun seluruh guru memiliki dokumen pendukung pembelajaran, seperti modul ajar atau RPP, bahan ajar, media, dan instrumen penilaian, pelaksanaan pembelajaran masih menghadapi kendala teknis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru terkadang harus menggunakan speaker Bluetooth pribadi, telepon pintar siswa, dan kode QR untuk menyediakan akses terhadap materi listening . Bahkan, guru membacakan naskah secara langsung ketika perangkat audio tidak tersedia atau tidak dapat digunakan secara optimal.
Hasil observasi terhadap enam guru memperkuat temuan wawancara tersebut. Seluruh guru (100%) telah membuka pembelajaran, menjelaskan tujuan, memberikan motivasi, menggunakan media audio atau video, memberikan instruksi yang jelas, membantu siswa yang mengalami kesulitan, menggunakan materi autentik, dan melakukan penilaian keterampilan listening . Namun, penerapan tahapan pembelajaran belum sepenuhnya merata. Kegiatan sebelum listening (pre-listening ) dan penggunaan teknologi atau aplikasi pembelajaran masing-masing hanya ditemukan pada 50% guru. Sementara itu, kegiatan selama listening (while-listening ) diterapkan oleh 83,3% guru dan kegiatan setelah listening (post-listening ) oleh 66,7% guru.
Dari sisi siswa, observasi menunjukkan bahwa 83,3% siswa yang diamati berpartisipasi aktif dan mampu mempertahankan konsentrasi selama kegiatan listening . Namun, seluruh guru (100%) masih menemukan siswa yang mengalami kesulitan memahami audio. Selain itu, fasilitas pembelajaran yang memadai hanya ditemukan pada 66,7% observasi, sedangkan kendala teknis juga tercatat pada 66,7% observasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa keterlibatan siswa dan upaya guru dalam melaksanakan pembelajaran belum sepenuhnya menghilangkan hambatan dalam memahami materi listening .
Sementara itu, hasil analisis dokumen menunjukkan bahwa seluruh guru (100%) memiliki dokumen pembelajaran yang diperlukan, meliputi modul ajar atau RPP, dokumen kurikulum dan silabus, bahan ajar dan lembar kerja peserta didik, media pembelajaran, instrumen penilaian, hasil belajar siswa, serta dokumen fasilitas dan sumber belajar. Namun, ketersediaan dokumen tidak selalu berarti bahwa seluruh komponen pembelajaran telah diterapkan secara optimal. Hal tersebut terlihat dari masih adanya variasi dalam pelaksanaan tahapan listening dan pemanfaatan teknologi di kelas.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, guru telah menerapkan sejumlah strategi untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan listening . Strategi tersebut meliputi pemilihan materi yang menarik dan sesuai dengan kemampuan serta minat siswa, penerapan tahapan pre-listening , while-listening , dan post-listening , serta pemberian latihan listening secara berulang, mulai dari memahami informasi umum hingga menemukan informasi spesifik. Guru juga memberikan pengenalan kosakata sebelum kegiatan listening , menerapkan scaffolding, memberikan pendampingan individual, dan menggunakan topik yang familier untuk mengurangi kecemasan siswa. Pemanfaatan sumber belajar digital dan kode QR juga dilakukan untuk memperluas kesempatan siswa berlatih secara mandiri.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peningkatan kualitas pembelajaran listening memerlukan perhatian dari guru maupun pihak sekolah. Guru perlu memilih materi autentik yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, melaksanakan tahapan pembelajaran secara sistematis, dan memberikan latihan listening secara rutin. Penggunaan teknologi digital, seperti audio, video, smartphone, dan kode QR, juga perlu dioptimalkan sebagai sarana pendukung pembelajaran. Di samping itu, guru perlu menciptakan suasana kelas yang interaktif, memberikan umpan balik, serta membangun kepercayaan diri siswa agar mereka lebih berani menghadapi materi berbahasa Inggris.
Sekolah juga diharapkan dapat mendukung pembelajaran melalui penyediaan perangkat audio yang memadai, akses internet, dan sumber belajar yang mudah digunakan. Dukungan tersebut penting agar guru memiliki lebih banyak alternatif dalam menyajikan materi dan mengatasi kendala teknis selama pembelajaran berlangsung.
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran listening tidak cukup hanya dengan memutar rekaman audio dan meminta siswa menjawab pertanyaan. Keterampilan listening membutuhkan proses pembelajaran yang terencana, latihan berkelanjutan, materi yang sesuai, strategi pengajaran yang tepat, serta dukungan fasilitas dan lingkungan belajar yang kondusif.
Melalui penelitian ini, tim peneliti Universitas Peradaban berharap hasil kajian dapat menjadi bahan refleksi dan masukan bagi guru, sekolah, serta pemangku kepentingan pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Inggris. Potret pembelajaran listening di Paguyangan menunjukkan bahwa memahami kesulitan nyata yang dihadapi guru dan siswa merupakan langkah penting untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, efektif, dan bermakna.










