Kramat, korantegal.com — Tradisi Larung Sedekah Laut Nelayan TPI Larangan kembali digelar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Larangan, Kecamatan Kramat, Rabu (24/06/2026). Kegiatan tahunan masyarakat pesisir tersebut menjadi wujud rasa syukur nelayan atas hasil laut yang diperoleh sekaligus upaya melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman hadir dalam kegiatan tersebut bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Tegal, kepala perangkat daerah terkait, unsur pemerintah kecamatan, instansi kelautan dan perikanan, organisasi nelayan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Dalam sambutannya, Ischak menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya tradisi Sedekah Laut yang secara konsisten dilaksanakan oleh masyarakat nelayan TPI Larangan setiap tahun.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Tegal, saya mengucapkan selamat atas terselenggaranya acara Sedekah Laut Nelayan TPI Larangan. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat berjalan lancar dan membawa keberkahan serta kemanfaatan bagi seluruh masyarakat, khususnya para nelayan,” ujar Ischak.
Menurutnya, Sedekah Laut tidak hanya menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dari laut, tetapi juga merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Ia menambahkan, tradisi tersebut memiliki nilai kebersamaan yang kuat karena melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari nelayan, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah daerah.
Selain prosesi larung sesaji, rangkaian kegiatan Sedekah Laut tahun ini juga diisi dengan pengajian, santunan sosial, pagelaran wayang kulit, serta hiburan rakyat yang mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.
Pada kesempatan itu, Ischak juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Tegal dalam meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan bagi nelayan. Salah satunya melalui program perlindungan sosial bagi nelayan yang bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan.
“Pemerintah Kabupaten Tegal telah memberikan perlindungan melalui program asuransi nelayan kepada sekitar 2.000 nelayan. Ini sebagai bentuk perhatian terhadap risiko pekerjaan yang dihadapi para nelayan saat melaut,” jelasnya.
Selain perlindungan asuransi, pemerintah daerah juga menyiapkan bantuan beras paceklik bagi nelayan yang terdampak musim angin barat. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga nelayan ketika hasil tangkapan menurun akibat kondisi cuaca.
Prosesi larung sesaji yang menjadi puncak acara berlangsung khidmat. Ratusan nelayan dan warga memadati kawasan TPI Larangan untuk menyaksikan pelepasan sesaji ke laut sebagai simbol rasa syukur sekaligus doa agar para nelayan senantiasa diberikan keselamatan dan hasil tangkapan yang melimpah.
Salah seorang nelayan, Sutrisno (52), mengaku selalu mengikuti tradisi Sedekah Laut setiap tahun karena memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat pesisir.
“Alhamdulillah setiap tahun saya selalu ikut Sedekah Laut. Bagi kami nelayan, ini bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk rasa syukur kepada Allah atas rezeki yang diberikan melalui laut. Semoga para nelayan selalu diberi keselamatan dan hasil tangkapan yang melimpah,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kehadiran Bupati Tegal dalam kegiatan tersebut karena dinilai menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kehidupan nelayan dan pelestarian tradisi masyarakat pesisir.
Melalui penyelenggaraan Sedekah Laut, masyarakat nelayan berharap tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan pesisir Kabupaten Tegal ini dapat terus terjaga, sekaligus menjadi sarana mempererat kebersamaan antara nelayan, pemerintah, dan masyarakat dalam mendukung kemajuan sektor kelautan dan perikanan daerah. (ZS/MA)

