Jatinegara, korantegal.com — Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menegaskan pentingnya percepatan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari, seiring penyerahan 353 unit hunian sementara (huntara) tahap I di Desa Capar, Kecamatan Jatinegara, Rabu (29/4/2026).
Penyerahan huntara ini merupakan bagian dari upaya penanganan pascabencana yang terjadi pada 2 Februari 2026 dan berdampak pada sekitar 900 rumah warga. Pemerintah daerah memandang penyediaan hunian sementara menjadi langkah awal, namun perlu segera diikuti solusi jangka panjang melalui pembangunan hunian permanen.
“Alhamdulillah, setelah hampir empat bulan sejak bencana terjadi, hari ini kita dapat melaksanakan serah terima hunian tahap pertama. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kerja cepat dari Kementerian PU,” ujar Bupati.
Ia menekankan, kebutuhan hunian bagi masyarakat terdampak masih cukup besar sehingga diperlukan percepatan tindak lanjut pembangunan berikutnya.
“Kebutuhan kita sekitar 900 unit. Harapannya ke depan dapat segera direalisasikan, bahkan jika memungkinkan langsung ke hunian tetap agar masyarakat tidak perlu berpindah dua kali,” jelasnya.
Selain aspek hunian, Bupati juga menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar di kawasan huntara, khususnya ketersediaan air bersih sebagai layanan utama bagi masyarakat.
“Air adalah kebutuhan primer. Kami mendorong agar koordinasi terus dilakukan sehingga kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi, terlebih menjelang musim kemarau,” tegasnya.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, pemerintah juga menyiapkan fasilitas hunian sementara dengan kapasitas memadai. Pembangunan huntara di Desa Capar memiliki kapasitas total 456 unit di atas lahan sekitar 47.000 meter persegi. Setiap unit berukuran 3 x 6 meter dan dilengkapi fasilitas dasar, serta didukung sarana umum seperti tempat ibadah, pos kesehatan, dapur umum, dan ruang bermain anak.
Perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Veriko Asyo Yoga Nanta, menyampaikan bahwa pembangunan huntara dirancang sebagai solusi transisi dengan tetap memperhatikan aspek kelayakan dan kenyamanan bagi masyarakat terdampak.
“Hunian ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga memberikan rasa aman dan harapan baru bagi masyarakat,” ujarnya.
Di tengah proses pemulihan, keberadaan huntara mulai dirasakan manfaatnya oleh warga. Abdul (50), salah satu warga terdampak, mengaku kini keluarganya dapat kembali beraktivitas dengan lebih tenang.
“Saya sangat bersyukur akhirnya bisa menempati hunian sementara ini. Setelah kejadian kemarin, kami sempat bingung harus tinggal di mana. Sekarang sudah lebih aman untuk keluarga,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Tegal berharap penanganan pascabencana dapat terus berlanjut secara bertahap, tidak hanya melalui penyediaan hunian sementara, tetapi juga percepatan pembangunan hunian permanen serta pemenuhan layanan dasar bagi masyarakat terdampak. (ZS/MA)


